Teror Hantu di Asrama Mahasiswa

12 06 2010

Oleh: Nasrullah

Sebagai mahasiswa yang berasal dari luar Banjarmasin, Aspul dan teman-temannya

Ilustrasi hantu asrama (net)

membentuk  persatuan mahasiswa dari kabupaten Barito Kuala. Oleh Pemkab Batola. mereka diberikan fasilitas tempat tinggal berupa rumah kontrakan. Namun, sudah setahun lalu rumah yang dijadikan asrama habis masa kontraknya. Kini mereka mencari kontrakan baru dan beruntung tidak jauh dari kampus yakni sekitar jalan Kemiri, Gatot Subroto, ada rumah kosong dan besar yang akan dikontrakkan.

Aspul bersama temannya kemudian melihat keadaan rumah yang akan dikontrakkan itu, kebetulan ada salah seorang warga yang menunggunya. Ketika melihat keadaan rumah, ternyata bergantungan berbagai jenis jimat, rajah dan berbagai alat penangkal makhluk halus di atas pintu. Kepada mereka diceritakan bahwa di dalam rumah tersebut ada penunggunya, bahkan kerap memanggil nama orang yang menginap di dalamnya.

Mengingat mereka butuh tempat tinggal dan selama ini sering berpindah tempat akhirnya rumah itu pun jadi dikontrakan. Tahun 2001, kala itu bertepatan dengan tibanya bulan Ramadhan, Aspul dan teman-temannya menempati rumah berukuran 15×30 meter persegi yang bertingkat dua. Di lantai dasar terdiri dari lima kamar dan empat kamar di lantai atas, sementara mahasiswa yang mendiaminya sebanyak duapuluh lima orang. Setiap kamar ditempati oleh dua hingga tiga orang mahasiswa.

Hari pertama menempati rumah kontrakan itu dengan rasa lelah karena membersihkan kamar, untuk sementara mereka melupakan cerita tentang penunggu rumah. Ketika malam tiba mereka pun terlelap, tapi benar juga mimpi-mimpi buruk sudah menghantui mereka. Ternyata apa yang dikatakan orang tadi itu benar, keesokan harinya masing-masing saling bercerita pengalaman malam pertama di rumah kontrakan tersebut. Hampir semua pada malam itu merasa seakan ada orang yang sedang membayangi tidur bahkan ada juga mahasiswa kesurupan. Akibatnya pada malam itu hampir tidak ada yang tidur, padahal bacaan ayat-ayat suci sudah lafalkan tetapi tetap dibayangi oleh kahantuan.

Setelah malam pertama itu, mereka mengira kejadian menakutkan itu hanya dialami sekali saja. Hari itu, bertepatan hari kamis ketika senja mulai, penghuni asrama sedang berpuasa ramadhan mereka berencana untuk datang ke musholla untuk berbuka bersama. Waktu berbuka pun tiba bertepatan dengan turun hujan gerimis. Setelah berbuka puasa masing-masing kembali ke asrama.

Ketika itu malam Jumat, Aspul dan Isur menaiki tangga ke lantai dua sebab di situlah kamar mereka berdampingan. Terlebih dahulu Aspul masuk kamar dan menutup jendela yang masih terbuka, sedangkan Isur masuk ke kamarnya juga. Namun, tiba-tiba keheningan malam itu terpecahkan oleh teriakan ketakukan Isur yang sambil berlari masuk ke kamar Aspul. Nampak wajahnya pucat pasi dan nafasnya tersendat-sendat. Teman-teman yang berada di lantai bawah segera naik ke atas, ingin mengetahui apa yang terjadi.

Mendapati banyak orang di kamar membuat Isur menjadi tenang dan dapat bercerita apa yang dialaminya. Ia melihat sosok serba putih yang berdiri di dekat kamarnya. Mendengar cerita isur tersebut, akhirnya semua mahasiswa turun ke lantai bawah dan malam itu tidak ada yang berani tidur sendiri. Akibatnya, satu kamar diisi penuh oleh semua penghuni asrama yang berjumlah 25 orang tersebut.

Sejak itu pula malam-malam mereka lalui dengan bayang-bayang ketakutan, sebab ada saja peristiwa yang terjadi. Bahkan ada satu ruangan di kamar bawah yang mereka kosongkan karena merasa tempat itu sangat angker dan hanya diisi dengan komputer sebagai ruang sekretariat. Di depan kamar itu, mereka letakkan televisi agar suasana menjadi ramai. Namun, upaya tersebut tetap saja tidak merubah keadaan.

Di lantai bawah sering ada yang melihat sosok bayangan hitam duduk-duduk di atas kursi, terkadang televisi pun hidup dan mati tanpa ada penghuni asrama yang mengotak-atik remote. Beberapa penghuni kadang meninggalkan kamar pada malam hari dan kembali pada siang hari, bahkan Uwa penghuni kamar bawah sering melihat sosok hidung temannya yang ketika tidur seperti tertutup kapas seperti orang mati. Namun, ketika ditanyakan kepada temannya itu ternyata tidak ada kapas di hidungnya. Teror hantu di asrama itu membuat tidak ada yang berani tinggal sendirian di asrama, jadi kalau ada yang pulang maka semuanya akan pulang. Sebaliknya kembali ke asrama pun secara bersama-sama pula.

Meskipun selalu dihantui rasa ketakutan, tapi mereka tetap menempati asrama itu dan berbagai upaya untuk mengusir hantu tersebut. Menggiatkan yasinan bersama setiap malam Jumat dan malam Senin hingga akhirnya asrama kontrakan itu benar-benar aman setelah Beni, salah seorang penghuni asrama mendatangi orang alim di Marabahan untuk meminta banyu yang dipercikkan sekeliling asrama.

Setelah lama menempati asrama dan kemudian pindah dari rumah itu karena masa kontraknya habis mereka mendapatkan banyak cerita tentang rumah itu. Ada yang menceritakan bahwa di situ ada seorang perempuan yang mati bunuh diri, versi lain ada yang menceritakan di bawah rumah itu ada bekas kuburan orang Cina.

Terbit di tabloid Urbana, 1 Februari 2010


Aksi

Information

One response

13 06 2010
charris

Wah….. hantunya kayak cewek bule ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: