Kelotok Riwayatmu Kini

15 06 2010

Oleh: Abdul Rasyid

Waktu aku masih berstatus sebagai pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Alalak, tempat aku menuntut ilmu selama tiga tahun. Pulang sekolah, taksi pun setia menunggu kami. Yang akan mengantarkan kami menuju rumah masing-masing. Taksi aku tumpangi ini bukan taksi mobil atau Bus Sekolah bagi sekolah-sekolah di kota sana. Melainkan taksi kelotok (Perahu bermesin tempel). Karena sekolah ku berada dipinggir sungai tepatnya sungai Barito. Kelotok merupakan alat transportasi kami para murid-murid Sekolah maupun masyarakat sekitar.
Dikelotok aku sering duduk dipinggir paling muka, dan kadang-kadang diatas. karena aku suka dengan bunyi percikan-percikan air hempasan kelotok yang menghempas gelombang-gelombang kecil. Karena pada saat itulah aku merasa tenang ketika percikan air mengenai mukaku dengan lembut seperti embun di pagi hari. Ada rasa ketenangan yang ku rasakan. Untuk itulah aku sering menyebutnya terapi air sungai. Ditambah dengan suara yang gemuruh air sungai serta pemandangan lalu lalang kelotok-kelotok lain yang saling mengejar seperti ingin mengungkapkan bahwa kelotok merekalah yang paling cepat jalannya. Begitu indahnya Sungai Barito.
Singgahnya pun bukan diterminal atau di halte, tapi diatas rakit kayu yang mengapung disungai yang kami sebut batang (Tempat MCK). Batang itulah yang jadi pelabuhan. Selain sebagai tempat singgah klotok, batang juga memiliki banyak fungsi, bisa digunakan sebagai tempat untuk mandi, cuci pakaian, serta tempat transaksi jual beli sayur, ikan dan berbagai jenis jualan lainnya.
Sejak dulu, transportasi air ini memegang peranan penting baik bagi penduduk setempat yang hidup di tepi sungai. Begitulah gambaran kehidupan didaerah sungaiku.
Sayangnya, saat ini sebagian besar taksi-taksi klotok ini sudah kehilangan masa puncak kejayaannya. Sudah jarang sekali terlihat. Karena transportasi darat lebih dominan. Disebabkan mudahmya sarana dan akses transportasi darat. Keberadaan jalur transportasi darat ini mempengaruhi kebudayaan sungai. Sehingga, lambat laun budaya sungai ini tergusur oleh pembangunan darat.
Tidak sedikit motoris yang biasanya membawa kelotok pengangkut penumpang kini berganti profesi kepekerjaan lain, selain penumpang yang terus berkurang. Kelotok merekapun sebagian telah dijual. Kini sebagian pemilik kelotok masih ada yang mampu bertahan, paling tidak ada dua alasan yang mempertahankan taksi klotok. Yang pertama, karena masih adanya pelanggan yang memerlukan keberadaan taksi kelotok yang biasanya dengan carteran. Pasalnya, dengan kondisi saat ini mustahil mengharap penghasilan dari penumpang reguler yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Yang kedua, karena alasan terpaksa, karena tidak ada pekerjaan lain.. Meski tersisih oleh angkutan darat, keberadaan kelotok sebenarnya masih dibutuhkan warga. Mengingat sebagian besar masyarakat hidup didaerah pinggiran sungai yang lokasinya belum tentu dekat dengan jalan darat.
Mudah-mudahan keberadaan kelotok sebagai budaya sungai didaerahku masih tetap lestari.

Penulis Mahasiswa Fakultas Syariah jurusan Siyasah Jinayah
berasal dari kec. Alalak


Aksi

Information

2 responses

15 06 2010
Abdul Muiz

Kelotok mana nih?

tranportasi sungai di Kalimantan Selatan.

20 06 2010
Masrubay al Tambani

bukan pemusnahan kelotok tetapi ada beberapa hal yang menyebabkan kelotok tidak dapat berkembang lagi,. kita harus akui itu tetapi jangan sampai sejarah kelotok di musnahkan itu saja,. karna memang saat ini kita tidak dapat lagi menentang hilangnya kejayaan kelotok,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: